Sunday, October 12, 2008

Bapaku Pemulung Ulung


Bapaku Pemulung Ulung



Yohanes 3 : 16Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal

Suatu hari seorang guru sekolah minggu memberi tugas kepada murid-muridnya, 'Seperti apa Allah Bapa itu?' Minggu berikutnya, sang guru menagih PR dari setiap murid: "Bagaimana adik-adik? Menurut kalian Allah Bapa itu seperti apa?" "Allah Bapa itu seperti dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah seorang dokter. "Ia sanggup menyembuhkan penyakit seberat apapun!" Anak seorang guru menjawab, "Allah Bapa seperti guru! Dia selalu mengajarkan kita untuk berbuat yang baik dan benar." Anak yang lain tidak mau kalah menjawab, "Allah Bapa seperti hakim. Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi!""Menurut aku, Allah Bapa itu seperti arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" tutur seorang anak yang papanya arsitek. "Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat. Guru sekolah minggu pun tersenyum ketika satu demi satu anak-anak sekolah minggu memperkenalkan sosok Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sejak tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban teman-temannya. "Eddy, menurut kamu Allah Bapa itu seperti apa?", tanya sang guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak-anak lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup. Eddy hampir-hampir tidak dapat mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan ketika menjawab, "Ayah saya seorang pemulung....jadi saya pikir.....Allah Bapa itu seorang pemulung ulung." Sang guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain pun protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy", ujar sang guru. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?" Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab, "Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya." Memang benar! Bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, menjadikan kita biji mata kesayanganNya, bahkan menjadikan kita pewaris Kerajaan Allah. Allah adalah editor, karena Ia mengedit seluruh jalan hidup saya sampai saat ini.

Babi & Kucing


Babi & Kucing


Suatu hari, Philip Yancey, penulis kristiani ternama, didatangi seorang pria yang menyatakan ingin menceraikan istrinya dan menikahi perempuan lain. Ia bertanya, “Maukah Allah mengampuni dosa yang akan saya lakukan ini? Bukankah Allah Mahakasih?” Yancey mengingatkan, jika seseorang sengaja hidup dalam dosa, bisa jadi ia lupa kembali ke jalan Tuhan. Namun, nasihat itu tak digubris. Rencananya tetap dijalankan. Ternyata benar, pria itu tak lagi mau kembali. Ia tidak hanya jatuh dalam dosa, tetapi juga memilih hidup dalam dosa.
Ini serupa dengan cerita tentang babi dan kucing. Pria itu memilih menjadi seperti babi, yang bila dimasukkan ke kubangan, ia betah berkubang di situ. Ia tak memilih sikap seperti seekor kucing, yang bila jatuh ke kubangan, ia akan segera berupaya keluar.
Seperti Yancey, Paulus pun mengingatkan kita supaya berhati-hati. Setelah menerima kasih karunia Tuhan, kita harus berjaga-jaga agar jangan diperalat lagi untuk menjadi hamba dosa, sebab kita sudah dimerdekakan! Yesus sudah menjalani pertukaran di kayu salib dengan harga yang sangat mahal untuk membebaskan kita dari segala dosa.

Sumber: www.glorianet.org

GARAM


GARAM


Seorang koki sedang mempersiapkan perjamuan istemewa untuk pesta pernikahan Raja. Bahan makanan dan bumbu-bumbu telah tersedia untuk diramu berdasarkan resep khusus. Wah, ternyata ada bumbu penting yang ketinggalan, GARAM!
Sang koki kebingungan, sebab tanpa garam tidak akan pernah ada perjamuan istemewa yang akan menyenangkan hati Raja. Koki segera mengambil sebotol garam, kemudian dibukanya tutup botol tersebut hendak dikeluarkan garamnya. Tiba-tiba garam dalam botol berteriak, "Jangan!!!" Koki heran dan bertanya, "Kenapa?? Jangan takut, aku akan menjadikan engkau hidangan yang menyenangkan hati Raja pada hari pernikahannya."
Garam-garam itu pun berteriak dan menjawab dengan berbagai jawaban. "Jangan, nanti kami tidak dapat berkumpul lagi bersama teman-teman garam dalam botol yang sangat indah ini""Jangan, nanti kami larut dalam masakan, dan kami kehilangan bentuk dan warna kami, lalu orang-orang tidak dapat mengagumi kami lagi sebagai garam yang putih bersih""Jangan, nanti kami menderita kepanasan ketika sedang diproses untuk menjadi masakan""Jangan,...." Demikian banyak butir garam memberi alasan. Akhirnya cuma sedikit garam yang bersedia diramu menjadi masakan istimewa sang koki.
Pesta pernikahan Raja tiba. Perjamuan istimewa diadakan bagi Sang Raja pada hari pernikahannya. Wah, perjamuan yang sangat luar biasa, hidangan yang disajikan sungguh nikmat. Raja sangat senang.Garam-garam yang menyediakan dirinya untuk dipakai oleh koki, masuk ke dalam tubuh Sang Raja dan tinggal bersatu di sana selamanya. Garam-garam lainnya yang menolak dan tinggal dalam botol, kemudian dibuang karena sudah tidak berguna lagi.Untuk menjadi satu dengan kehidupan Kristus, kita harus bersedia membayar harga dengan menukar hidup kita.
Sumber: www.abbalove.org

Kasih yang pura-pura


Kasih yang pura-pura

Ada seorang pelayan yang bekerja sebagai koki pada seorang yang kaya. Si majikan senang mengganggu si koki. Misalnya, di atas pintu kamar si koki diseiakan seember air, sehingga ketika koki itu masuk ke dalam kamarnya, air itupun tumpah membasahi sekujur tubuhnya. Kalau sedang tidur, koki itu diganggunya dengan cara digelitik kakinya dengan lidi. Hal itu membuat si koki tidak bisa tidur. Ada-ada saja ulah yang dilakukan oleh majikannya hanya untuk bisa tertwa, tetapi si koki ini tetap penuh kasih dan setia kepada tuannya itu.
Sampai pada suatu hari natal, tuan itu sadar bahwa kesenangannya mengganggu itu tidak baik, karena hal itu membuat si koki yang setia menjadi susah. Sebagai tanda penyesalannya, lalu pagi-pagi sekali si majikan menghampiri si koki di tempat kerjanya,”Sahabat, maafkan saya. Selama ini saya selalu mengganggu kamu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Saya berjanji, mulai hari ini saya tidak akan pernah mengganggu lagi.”
Si koki lalu menjawab,”Tuan, saya juga ingin minta maaf karena saya juga banyak bersalah. Selama ini saya marah kepada Tuan, tetapi saya tidak berani melawan. Maka sebagai balas dendam, setiap hari ketika saya memasak untuk tuan, saya memasukkan keringat saya kedalam masakan itu!”
“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” (Roma 12:9)]


sumber: Secangkir Sup Bagi Jiwa Anda #4, Metanoia Publishing

Damai sejahtera


Damai sejahtera


Pada suatu ketika, Ibu Teresa menghadiri suatu pertemuan bersama dengan raja, presiden, perdana menteri, serta negarawan dari seluruh dunia. Semua yang hadir mengenakan mahkota, permata, mutiara, dengan baju sutra, beludru, serta perhiasan mahal lainnya. Ibu Teresa hanya menggunakan pakaian sari (pakaian khas India) yang dijepit dengan peniti.
Ibu Teresa lalu terlibat dalam pembicaraan dengan seorang bangsawan. Bangsawan itu menanyakan mengenai pelayanannya bagi orang-orang termiskin di Kalkuta. Pada akhir pembicaraan, ia menanyakan apakah Ibu Teresa tidak merasa kecewa karena hanya memperoleh sangat sedikit kekayaan dari pelayanannya. Bunda Teresa menjawab, “Tidak, aku tidak kecewa. Ketahuilah bahwa Tuhan tidak memanggilku untuk melakukan pelayanan yang penuh dengan kekayaan materi. Ia memanggilku untuk melakukan pelayanan yang penuh dengan kemurahan hati.” Dan, sejarah mencatat bahw Ibu Teresa hidup dengan penuh damai sejahtera dan sukacita walaupun hidupnya jauh dari kekayaan materi.


Sumber: 50 Renungan yang membawa berkat, Metanoia Publishing