Tuesday, November 4, 2008

MENATAP KE DEPAN

MENATAP KE DEPAN

Ada seekor bangau yang baru belajar menangkap ikan. Biasanya ia berdiri menunggu pada aliran Imagesungai dan jika ada ikan yang lewat, dipatuknya ikan itu. Tetapi, setiap kali ia mencoba, ia selalu gagal, sehingga teman-temannya menertawakan dia, “Kamu bangau yang bodoh, menangkap ikan begitu saja tidak bisa.”
Demikian ejekan mereka. Akhirnya, bangau ini menjadi malu dan kecewa, sehingga ia menjadi takut untuk mematuk ikan lagi. Kalau ada ikan yang lewat ia menjadi ragu-ragu untuk mematuknya. Sampai akhirnya bangau itu pun mati kelaparan karena tidak berani mematuk ikan.

Janganlah kita terpaku dengan kegagalan-kegagalan pada hari-hari yang lalu! Angkatlah hati kita kepada Allah, dan berkatalah seperti Rasul Paulus, “Aku melupakan apa yang telah dibelakangku” (Filipi 3:13). Lupakanlah masa lalu yang berisi kegagalan dan kekecewaan. Bersama dengan Tuhan Yesus, bangkitlah dan berusahalah kembali untuk memperoleh keberhasilan pada hari-hari mendatang.

Sumber: Secangkir Sup bagi Jiwa Anda (Metanoia Publishing)

Pergaulan

Pergaulan

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang. (Amsal 13:20) Image

Renungan:
Dengan siapa kita bergaul, demikianlah kita jadinya. Kata-kata ini sering kita dengar sebagai ungkapan bahwa berhati-hatilah dalam pergaulan. Pergaulan yang sehat seharusnya bisa membuat kita bertumbuh dan menjadikan kita besar. Namun bila salah dalam menentukan pergaulan, kita yang akan dirugikan karena akibat dari pergaulan yang buruk tersebut. Kebiasaan yang buruk mempengaruhi kebiasaan yang baik, kata-kata ini tentu tidak boleh kita lupakan dalam kita menentukan pergaulan. Amsal ini bahkan mempertegasnya dengan siapa seharusnya kita bergaul, agar hasil dari pergaulan tersebut menjadikan kita bijak. Namun jika kita bergaul dengan orang bebal akan menjadi malang. Untuk itu tentukanlah yang baik dalam kita memilih pergaulan. Kita dapat memilih dengan siapa kita bergaul.

Refleksi:
1.Bagaimana kualitas pergaulan saya saat ini?
2.Apakah saat ini saya berada ditengah-tengah pergaulan yang membuat saya bertumbuh atau sebaliknya?

Repetisi:
1.Kenalilah dalam setiap pergaulan kita, dengan siapa kita berteman.
2.Ingatlah Amsal 13:20 ini dalam kita memilih pergaulan.

"Tuhan" dalam tas ranselku

Image

"Tuhan" dalam tas ranselku

"Hey, dompetku mana nih? Aduh!"
Aku mendadak berkeringat dingin ketika tidak kulihat dompetku. Siang itu aku baru balik dari bank. Tadi aku memang sempat mengeluarkan dompet untuk mengambil KTP. Aduh, gawat deh kalau sampai hilang. Kuubek-ubek lagi tas ranselku. Kubuka mataku lebar-lebar untuk meneliti bagian dalam dari tas ranselku. Aku yakin tadi aku sudah memasukkan kembali dompetku ke dalam tas ranselku.

Aku jadi tersadar, betapa aku sangat tergantung pada dompetku itu. Mungkin lebih tepatnya, pada isi dompetku. Karena di situ bukan cuma uang isinya, ada KTP, SIM, ATM, dan lain-lain. Kalau hilang, bisa nangis deh!

Aku kemudian ingat kalimat yang ditulis seorang temanku: Tuhan di saku celana. Aku tidak tahu persis apa maksudnya. Tetapi jangan-jangan dompet itu sudah menjadi semacam "tuhan" bagiku. "Tuhan" yang memang kadang-kadang kuselipkan di saku belakang celana jinsku. Tanpa dompet itu aku sepertinya tidak bisa hidup. Dompet itu memang selalu ikut ke mana pun aku pergi. Lebih tepatnya, aku yang "mengajaknya" untuk menemaniku. Ke pasar, ke kantor dia juga ikut

Kadang-kadang, sepertinya aku tidak adil dalam menempatkan Tuhan di dalam hidupku. Keberadaan Tuhan dengan mudah tergantikan oleh benda-benda atau orang-orang yang ada di sekitarku. Salah satunya adalah dompetku tadi.

Sumber: www.glorianet.org

HIKMAT UNTUK MENGHADAPI ORANG BEBAL

ImageHIKMAT UNTUK MENGHADAPI ORANG BEBAL

Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia (Amsal 26:4)

Renungan:
Pada suatu Minggu pagi, seorang koster (petugas pembersih gedung gereja) sibuk menyapu gedung untuk kebaktian pagi di pinggiran sebuah kota di Papua. Ketika menyapu, ia menemukan seseorang yang mabuk dan terbaring dalam selokan di pintu gereja. Sang koster berkata, “Bangun-bangun. Ko (maksudnya engkau) tidur di sini, orang lain mau datang gereja.” Orang yang mabuk itu menjawab, “Mengapa ko mengusir aku dari rumah bapaku?” Koster menjawab, “Ko dari atas kah? (maksudnya mereka yang tinggal di atas gunung-gunung)” Dan orang yang mabuk itu menjawab, “Ko sendiri yang mengatakannya.” Itulah jawaban orang bebal. Salomo berkata, “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia (Amsal 26:4).” Berapa banyak dari kita yang bertemu orang-orang bebal seperti ini di kantor atau rumah? Mereka tidak akan menerima nasihat Anda. Salomo berkata, “Seperti salju di musim panas dan hujan pada waktu panen, demikian kehormatan pun tidak layak bagi orang bebal,”(Amsal 26:1). Doakan mereka sampai ada kesempatan yang tepat untuk menuntun mereka kembali ke jalan yang benar.

Refleksi:
1.Pernahkah Anda menghadapi orang bebal seperti contoh di atas?
2.Sudakah Anda mendoakan mereka untuk menuntun mereka kembali ke jalan yang benar?
3.Petiklah hikmat dari kehidupan sehari-hari yang Anda jalani bersama Tuhan untuk pertumbuhan rohani Anda sendiri.

Repetisi:
1.Kenalilah perilaku orang-orang di sekeliling Anda, dan jadilah bijak.
2.Renungkanlah Amsal 26:1 dan 4 untuk menghadapi orang-orang di sekitar Anda.

Dahsyat dan Ajaib

Betapa besarnya potensi yang ada dalam tubuh kita ini. Jikalau ukuran tubuh anda adalah sedang, maka setiap hari anda akan melakukan fungsi-fungsi berikut ini: jantung anda berdenyut 103.689 kali; darah anda mengalir sejauh 270.000 kilometer; anda bernapas 23.040 kali; anda menghirup udara 131 meter kubik; anda makan antara 1.362 sampai 1.816 gram makanan, dan minum hampir 3 liter air, berkeringat lebih dari 1 liter melalui kulit; tubuh anda mempertahankan suhu 36,6 derajat celsius dalam semua kondisi cuaca; anda membangkitkan 450 kaki ton energi; anda mengucapkan 4.800 kata (hanya laki-laki), bergerak dan menggunakan lebih dari 700 otot, menggunakan 7.000.000 sel otak dan berjalan 11,2 kilometer (hanya wanita yang tinggal di rumah – bukan laki-laki, mereka naik kendaraan). Dan, tubuh ini adalah milik Allah. Dengan semua kegiatan ini, berapa banyak yang dipersembahkan kepada Allah, penciptanya. Persembahkanlah kepada Allah hari ini.

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:14)

sumber: Secangkir Sup Bagi Jiwa Anda #5, Metanoia Publishing.