Sunday, September 28, 2008

Memberi


Memberi

Rockefeller, pada usia 60 tahun menderita kanker diperutnya, dan dokter berkata bahwa tiga bulan lagi ia akan meninggal dunia. Ia lalu berkata, “Buat apa kekayaanku yang bermiliar-miliar, dan buat apa rumah-rumahku yang mewah.” lalu, ia datang kepada Tuhan dan berjanji, “Tuhan, dahulu saya hanya mencari uang, tetapi sekarang saya mau memberi.” Kemudian, ia mulai membangun rumah sakit Kristen, memberikan uangnya kepada hamba-hamba Tuhan yang pergi menginjil di Afrika, dan mengirim utusan-utusan Injil. Ia berkata bahwa sebelum ia meninggal dunia, ia mau memberi dahulu supaya dapat meninggalkan hal-hal yang baik. Tetapi, setelah 3 bulan ia tetap hidup, justru malah ia merasa semakin sehat. Lalu, ia pergi memeriksakan diri kepada dokter dan dokter berkata bahwa kanker itu telah lenyap. Puji Tuhan, ia sembuh bukan karena di doakan oleh pendeta, melainkan karena memberi. Dari mana datangnya kanker?Dari sifat yang kikir. Dari mana datangnya kesembuhan? Dari suka memberi.Memberi bukanlah berarti hanya dalam bentuk uang. Banyak orang yang salah paham, dan jika ada seorang pendeta yang berkotbah mengenai memberi dikatakan ia mata duitan. Memberi tidak hanya berarti memberi uang, tetapi juga bisa berupa kasih, perhatian, waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya.Sumber: secangkir sup 6 bagi jiwa anda (Timotius Adi Tan)

Allah yang Menopang Kita


BUKAN KITA, TETAPI ALLAHLAH YANG MENOPANG KITA


Ketika pertama kali kita menjadi orang Kristen, kita cenderung berpikir, “Allah, Engkau tidak tahu betapa hebatnya orang yang Kaupilih saat Kau memilihku. Aku akan memberitakan Kerajaan-Mu dengan tanganku sendiri. Aku akan pergi dan memenangkan dunia dan sungguh-sungguh akan menolong-Mu.” Maka kita bekerja dengan giat tetapi akhirnya datang kembali sambil tersungkur dan berkata, “Tuhan, aku tahu aku telah mengecewakan-Mu. Aku minta maaf. Aku benar-benar telah mengecewakan-Mu.” Namun Allah menjawab, “Tidak, kau tidak mengecewakan-Ku, karena kau tidak menopang-Ku.” Kita tidak menopang Allah; Dia yang menopang kita. Kita tidak menggenggam Allah di dalam tangan kita; kitalah yang berada di dalam tangan-Nya. Allah sedang berusaha berkata kepada kita, “Relekslah dalam iman dan biarkan Aku bekerja melalui engkau.” Hari-hari ini begitu banyak orang Kristen benar-benar keletihan karena mereka mencoba melawan peperangannya Allah dengan kekuatan sendiri. Ketika kita berusaha melawan peperangan Allah dengan kekuatan sendiri, maka pasti kita akan dikalahkan. Firman Tuhan datang kepada Raja Yosafat dan orang-orang Israel ketika hendak berperang melawan bani Amon dan bani Moab. Tuhan berkata, "Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah,” (II Taw 20:15).

Sumber: God's Answers to life's difficult questions, by Rick Warren, Metanoia

Uang Kembaliannya terlalu banyak


Uang Kembaliannya terlalu banyak

Uang kembaliannya terlalu banyak!
Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, mengenai seorang pendeta Inggris yang cukup dikenal dan dihormati. Pada suatu ketika, pendeta itu pergi dengan mempergunakan bus listrik pagi-pagi sekali dari rumahnya di pinggiran kota menuju gerejanya yang terletak di pusat kota London. Pada waktu ia hendak membayar ongkos kepada sopir bus, pikirannya sudah dipenuhi dengan kesibukan akan kegiatannya yang besar. Baru setelah ia duduk, disadarinya bahwa sopir tersebut sudah memberikan kepadanya uang kembalian yang terlalu banyak. Ketika ia menimang-nimang uang kelebihan itu, pikiran yang pertama yang muncul adalah,”O betapa luar biasanya Allah menyediakan uang ini untukku!”
Tetapi, semakin lama ia duduk disana, semakin tidak tenanglah hatinya. Karena sudah mendekati gedung gereja tempat ia melayani, ia mendekati si sopir dan berkata,”Ketika saya naik, rupa-rupanya anda memberi saya kembalian terlalu banyak.”
Si sopir itu dengan tersenyum dan berkata,” Bukan ketidaksengajaan sama sekali. Pendeta tentunya ingat kemarin saya hadir di kebaktian yang bapak pimpin, dan saya mendengar kotbah bapak mengenai hal kejujuran. Oleh karena itu, saya berpikir untuk menguji bapak.”
Kelemahlembutan hati adalah kesediaan seseorang untuk dibentuk oleh Tuhan.
sumber: Secangkir Sup Bagi Jiwa Anda #6, Metanoia Publishing

Allah selalu di samping kita


Allah selalu di samping kita

Ingatlah! Allah selalu disamping kita
Seorang ayah, yang memiliki seorang putra, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.
Pada hari pertunjukan, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Tanpa sepengetahuan ayahnya, anak tersebut menyelinap pergi. Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut, lalu anak tersebut mulai memainkan sebuah lagu yang sederhana. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung.
Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata, "Teruslah bermain". Sang pianis lalu duduk di samping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.
Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah. Sang anak merasa bangga, pikirnya, "Wah betapa hebatnya aku!" Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.
Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita.
Sumber: www.glorianet.org

Friday, September 26, 2008

TAMU ATAU PEMILIK RUMAH?

Image

TAMU ATAU PEMILIK RUMAH?

Seorang gubernur negara bagian Amerika Serikat pernah berjumpa dengan seorang Kristen yang menurutnya "memiliki sesuatu yang berbeda," padahal mereka sama-sama Kristen. Usut punya usut, sang gubernur menduga bahwa mungkin karena mereka berbeda denominasi.

Dalam diskusi mereka, sang gubernur berkata,"Jika Anda mau datang ke rumah, saya akan menerima Anda sebagai tamu kehormatan. Anda boleh menikmati apa saja yang ada di rumah saya, tapi Anda tidak berhak mengatur apa pun karena Anda tetap hanya seorang tamu yang tidak memiliki kunci rumah saya. Kecuali jika saya mengalihkan hak milik atas rumah ini kepada Anda maka saya akan menurut apa saja yang harus diperbuat di rumah ini sesuai petunjuk-petunjuk Anda."

Mendengar itu, orang Kristen tadi menyahut, "Itulah bedanya Anda dan saya. Saya telah menyerahkan kunci rumah hati saya kepada Yesus. Sedangkan Anda hanya mengundang Dia sebagai seorang tamu."

Tatkala sang gubernur bertanya apa yang mesti dilakukan, rekan seiman tadi menjawab,"Yang perlu dilakukan hanyalah meminta Dia untuk menjadi pemilik rumah hati Anda." Sang gubernur pun mengikuti petunjuk tersebut dan sejak itu ia mengizinkan Tuhan bertahta dan mengatur setiap detail dalam hidupnya.

Saat kita diselamatkan, Allah ingin agar kita juga mengalami kuasa dan hadirat-Nya setiap hari, serta melihat bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan kita. Hanya ada satu syarat, yakni asal kita mau menyerahkan kunci rumah hati kita kepada-Nya.

Sumber: www.glorianet.org