Sunday, October 12, 2008

Damai sejahtera


Damai sejahtera


Pada suatu ketika, Ibu Teresa menghadiri suatu pertemuan bersama dengan raja, presiden, perdana menteri, serta negarawan dari seluruh dunia. Semua yang hadir mengenakan mahkota, permata, mutiara, dengan baju sutra, beludru, serta perhiasan mahal lainnya. Ibu Teresa hanya menggunakan pakaian sari (pakaian khas India) yang dijepit dengan peniti.
Ibu Teresa lalu terlibat dalam pembicaraan dengan seorang bangsawan. Bangsawan itu menanyakan mengenai pelayanannya bagi orang-orang termiskin di Kalkuta. Pada akhir pembicaraan, ia menanyakan apakah Ibu Teresa tidak merasa kecewa karena hanya memperoleh sangat sedikit kekayaan dari pelayanannya. Bunda Teresa menjawab, “Tidak, aku tidak kecewa. Ketahuilah bahwa Tuhan tidak memanggilku untuk melakukan pelayanan yang penuh dengan kekayaan materi. Ia memanggilku untuk melakukan pelayanan yang penuh dengan kemurahan hati.” Dan, sejarah mencatat bahw Ibu Teresa hidup dengan penuh damai sejahtera dan sukacita walaupun hidupnya jauh dari kekayaan materi.


Sumber: 50 Renungan yang membawa berkat, Metanoia Publishing

Sang Jerapah


Sang Jerapah

Butuh waktu yang panjang untuk menyiapkan seekor jerapah untuk siap hidup mandiri di alamnya. Saat lahir, seekor bayi jerapah harus jatuh dari kandungan induknya yang setinggi 3 meter dan biasanya mendarat pada bagian belakangnya. Dalam bebebrapa detik, ia akan berputar dan kakinya terlipat dibawah tubuhnya. Dengan posisi seperti ini, ia pertama kali melihat dunia. Kemudian, ia harus mengibaskan tubuhnya untuk membersihkan mata dan telinganya dari sisa air ketuban. Dan induk jerapah itu dengan kasar memperkenalkan anaknya kepada kehidupan hutan yang keras.
Dalam bukunya yang berisi suatu gambaran tentang kehidupan di rimba, Garu Richmond bercerita tentang saat pertama kali seekor bayi jerapah belajar untuk hidup di dalam rimba yang keras. Induk jerapah akan menundukkan lehernya untuk melihat bayinya. Kemudian, si induk jerapah melakukan suatu hal yang tidak dapat diterima akal sehat. Induk jerapah mengayunkan kakinya dan menendang bayinya berada di atas tumit. Tetapi, bila si bayi belum juga berdiri, proses kekerasan ini akan terus diulangi. Selama tumit bayi jerapah masih lemah, induk jerapah akan menendangnya kembali untuk mendorong si bayi agar mencoba untuk berdiri. Akhirnya, si bayi pun dapat berdiri untuk pertama kalinya dengan kakinya yang lemah.
Kemudian, induk jerapah melakukan suatu hal yang luar biasa, yakni menendang bayinya hingga terjatuh kembali. Mengapa? Induk jerapah ingin mengajar bayinya, bagaimana ia harus bangkit kembali setelah terjatuh. Didalam rimba yang keras yang menjadi tempat tinggalnya, bayi jerapah harus dapat segera bangkit kembali setelah terjatuh sehingga tidak terpisah dari kelompoknya agar aman dari singa, harimau, dan serigala yang sering memburu bayi jerapah. Bila induk jerapah tidak mengajar bayinya untuk cepat bangun setelah ia terjatuh, bayinya akan menjadi mangsa binatang buas.
Sama halnya dengan pendidikan Kristus akan berlangsung terus menerus sampai kita diubah menjadi serupa denganNya.

Sumber: 50 Renungan yang membawa berkat, Metanoia Publishing

Kerendahan hati


Kerendahan hati

Booker T. Washington, seorang kulit hitam yang menjadi pendidik terkenal di Institute Tukegee merupakan orang yang terkenal dengan kerendahan hatinya. Tidak lama setelah ia menjabat sebagai presiden dari Institute di Alabama, ia berjalan-jalan di pinggir kota. Seorang wanita kulit putih tiba-tiba menghentikannya. Karena tidak mengenal Washington, maka wanita yang kaya ini lalu menawarkan kepada laki-laki kulit hitam itu apakah ia mau mendapatkan uang dengan memotong kayu untuknya. Setelah berpikir bahwa tidak ada urusan yang mendesak, maka profesor Washington tersenyum dan menggulung bajunya dan mulai mengerjakan pekerjaan kasar yang diminta.
Setelah selesai, ia membawa kayu-kayu itu kedalam rumah dan meletakkannya didekat perapian. Seorang gadis kecil mengenalinya dan kemudian memberitahu wanita itu. Keesokan harinya, wanita tadi dengan perasaan malu datang ke kantor Washington dan meminta maaf.
“Tidak apa-apa bu,” jawabnya, “adakalanya saya menyukai pekerjaan kasar, disamping itu sungguh menyenangkan dapat menolong seorang teman.”
Wanita tadi dengan hangat lalu menjabat tangan Washington dan memberikan pujian atas prilakunya yang sangat rendah hati. Beberapa waktu kemudian wanita tadi menyatakan pernghormatannya dengan ikut menyumbang beribu-ribu dolar untuk Institute Tukegee.
Sumber: Secangkir Sup bagi jiwa anda #5

HIDUP YANG DAPAT DIJELASKAN DALAM SATU KALIMAT


HIDUP YANG DAPAT DIJELASKAN DALAM SATU KALIMAT


Arthur Ashe, adalah pemain legendaris Tenis Wimbledon yang meninggal karena AIDS akibat transfusi darah yang yang diterima saat operasi jantung pada 1983. Pada suatu kali, ia menerima sebuah surat dari penggemarnya yang bertanya, “Mengapa Allah memilih Anda untuk menerima penyakit buruk itu.” Arthur menjawab: Ada 50 puluh juta anak yang memulai untuk bermain tenis di seluruh dunia. Namun, hanya 5 juta saja yang telah belajar untuk bermain tenis. Ada 500,000 orang yang belajar bermain tenis secara profesional. Di antara mereka, terdapat 50,000 yang siap mengikuti turnamen yang diadakan setiap waktu. Ada 5000 petenis yang berhasil mengikuti turnamen grand slam. Ada 50 petenis mengikuti turnamen Wimbledon, tapi hanya 4 petenis yang berhasil mencapai semi final, lalu 2 petenis berhasil bertanding final. Namun, hanya saya yang berhasil memenangkan piala. Ketika memegang piala di tangan, saya tidak bertanya kepada Allah “Mengapa Saya?” Hari ini saya tidak bertanya kepada Allah saat saya sakit, “Mengapa Saya?” Kebahagiaan hanya akan menjaga Anda bersikap manis. Tantangan menjaga Anda tetap kuat. Dukacita menjaga Anda tetap manusiawi. Kegagalan membuat Anda rendah hati. Kesuksesan membuat Anda bersemangat, tetapi hanya sikap dan kesetiaan akan menjaga Anda untuk tetap maju.


HATI YANG BERKORBAN


HATI YANG BERKORBAN

Pada suatu hari, disebuah kelas sekolah minggu ada seorang anak perempuan yang akan pulang ke rumahnya karena tidak ada tempat lagi baginya dikelas itu. Tiba-tiba seorang guru melihatnya dan anak itu dikejarnya sambil berkata,”Nak, jangan pulang, Bapak akan mencarikan tempat bagimu.”
Lalu anak itu digendongnya serta dicarikan tempat dikelas yang memang terlalu kecil karena padatnya. Smabil mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi anak yang manis itu, si guru berkata sambil menghibur, “Kami berharap lain kali sekolah dapat menyediakan ruangan kelas yang lebih besar.”
Setelah pulang ke rumah, anak itu mulai menabung untuk dapat disumbangkan ke gereja tersebut sehingga dapat memperbesar kelas sekolah minggu. Namun beberapa waktu kemudian anak itu meninggal dunia. Setelah acara pemakaman selesai, ayah anak itu menceritakan kepada Dr. Russel Conwell segala sesuatunya dan menyerahkan uang tabungan anaknya yang hanya berjumlah 57 sen.
Sejak saat itu sebuah panitia pembangunan gereja dibentuk dengan modal uang sebesar 57 sen. Tuhan lalu menggerakkan hati umatNya begitu rupa, sehingga dalam tempo yang singkat dapat dikumpulkan uang tunai sejumlah 10.000 dolar. Beberapa waktu kemudian, sebuah gedung gereja yang besar lengkap dengan ruang-ruang kelas yang lebar untuk sekolah minggu telah didirikan.
Persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan ketulusan hati, tidak akan terbuang percuma.
Sumber: Secangkir sup bagi jiwa anda #6, Metanoia Publishing